AKIKAH

AKIKAH: Kurban atas Anak yang
Baru Lahir
Oleh: Muhammad ESA
Arti Leksikal Akikah
Akikah (Ar.: ‘aqiqah [akar kata
‘aqqa] = membelah dan
memotong). Menurut istilah
syar’i (yang berdasarkan
syarak) adalah binatang yang
disembelih sebagai kurban atas
anak yang baru lahir.
Hukum Akikah
Fukaha (ahli fikih) mempunyai
pendapat yang berbeda-beda
tentang hukum akikah sebagai
berikut :.
1. Segolongan fukaha, di
antaranya para pengikut Daud
az-Zahiri, Imam Hasan al-Basri,
dan Imam Lais bin Sa’ad,
berpendapat bahwa akikah
adalah wajib.
2. Jumhur (mayoritas) ulama
seperti Imam Malik, ulama
Madinah, Imam Syafi’I serta
para pengikutnya, imam Ahmad
bin Hanbal (Imam Hanbali),
Ishaq, Abu Saur, dan segolongan
besar ahli fikih dan mujtahid
(ahli ijtihad) lainnya
berpendapat bahwa hukum
akikah adalah sunah.
3. Para fukaha pengikut Abu
Hanifah (Imam Hanafi)
berpendapat bahwa akikah tidak
wajib dan tidak pula sunah,
melainkan termasuk ibadah
tatawwu’ (sukarela).
Dasar Hukum Akikah
Perbedaan pendapat tersebut
muncul disebabkan adanya
perbedaan pemahaman
terhadap hadis-hadis yang
berkenaan dengan masalah ini
sebagai berikut
“Setiap anak tergadai dengan
akikahnya. (Binatang) itu
disembelihkan untuknya pada
hari ketujuh, dan pada hari itu
juga kotoran dibersihkan
darinya” (HR. at-Tirmizi, an-
Nasa’i, dan Ibnu Majah).
“Aku tidak suka sembelihan-
sembelihan (akikah). Akan
tetapi, barangsiapa dianugerahi
seorang anak, lalu dia hendak
menyembelih hewan untuk
anaknya itu, dia dipersilakan
melakukannya” (HR. al-
Baihaki).
Hewan Akikah
Dalam masalah hewan yang
digunakan untuk akikah
terdapat perbedaan pendapat
diantara para fukaha sebagai
berikut :
Jumhur fukaha berpendapat
bahwa hewan yang boleh
dipakai untuk akikah hanyalah
hewan yang bisa disembelih
untuk kurban yang terdiri atas
delapan macam (empat pasang)
binatang.
Imam Malik lebih suka memilih
domba (da’n) sesuai dengan
pendapatnya tentang hewan
kurban.
Fukaha lain berpegang pada
prinsip bahwa unta lebih utama
daripada sapi dan sapi lebih
utama daripada domba.
Dasar Hukum Hewan Akikah
Perbedaan pendapat tersebut
disebabkan karena adanya
pertentangan antara hadis-hadis
mengenai akikah dan kias
sebagai berikut :
“Rasulullah saw menyembelih
(akikah) untuk Hasan bin Ali bin
Abi Thalib dan Husein bin Ali bin
Abi Thalib, cucu Nabi saw,
masing-masing satu
kambing” (HR. Ibnu Abbas ra).
“Akikah anak perempuan
adalah satu kambing, sedangkan
untuk akikah anak laki-laki
adalah dua kambing” (HR. Abu
Dawud).
Menurut kias, karena akikah
adalah suatu ibadah yang
berupa penyembelihan
binatang, seharusnya
diutamakan hewan yang lebih
besar karena dipersamakan
dengan penyembelihan hewan
al-hadyu (kurban).
Tentang umur dan sifat hewan
akikah, para fukaha sepakat,
sama dengan umur dan kondisi
hewan kurban, yakni harus
bersih dari cacat.
Usia Orang Yang Diakikahi
Perbedaan pendapat tentang
usia orang yang akan diakikahi
sebagai berikut :
Jumhur fukaha berpendapat
bahwa yang diakikahi adalah
anak laki-laki dan anak
perempuan yang masih kecil.
Pendapat ini disandarkan atas
keterangan hadis bahwa akikah
dilakukan pada hari ketujuh dari
kelahiran anak.
Sebagian fukaha bahkan
berpendapat membolehkan
akikah untuk orang dewasa.
Pendapatnya disandarkan pada
sebuah riwayat dari Anas bin
Malik bahwa Nabi saw
mengakikahi dirinya sesudah
diutus sebagai Nabi.
Jumlah Hewan Akikah
Dalam menentukan jumlah
hewan akikah terdapat pula
perbedaan pendapat dari para
fukaha sebagai berikut :
Imam Malik, berpendapat cukup
satu ekor kambing, baik untuk
anak laki-laki maupun untuk
anak perempuan.
Imam Syafi’I, Abu Saur
Ibrahim bin Khalid Yamani al-
Kalbi, Abu Dawud, dan Ahmad,
berpendapat untuk anak
perempuan adalah satu ekor
kambing dan untuk anak laki-
laki adalah dua ekor kambing.
Waktu Penyembelihan
Untuk waktu penyembelihan
hewan akikah menurut
pendapat fukaha sebagai
berikut:
Jumhur fukaha berpendapat
harus dilakukan pada hari
ketujuh dari kelahiran anak.
Sebagian fukaha malah
membolehkan penyembelihan
dilaksanakan pada pekan kedua
atau pekan ketiga dari kelahiran
anak.
Tetapi bagi fukaha yang
membolehkan akikah untuk
orang dewasa, maka
penyembelihan itu tentunya
boleh dilakukan pada usia
dewasa.
Hukum daging akikah serta
bagian-bagian lainnya sama
dengan hukum daging kurban
dalam hal makan, sedekah, dan
larangan menjualbelikannya.
Dalam masyarakat Islam, tradisi
upacara akikah biasanya
dihubungkan dengan upacara
pencukuran rambut dan
penamaan anak. Hal tersebut
didasarkan pada hadis Nabi saw
yang diriwayatkan oleh at-
Tirmizi, an-Nasa’i, dan Ibnu
Majah dari Hasan dari Samurah
yang artinya: “ Setiap anak
tergadai dengan akikahnya.
Pada hari ketujuh ia
disembelihkan akikah itu,
rambutnya dicukur, dan diberi
nama.” Upacara tersebut
merupakan reaksi Islam
terhadap tradiri Jahiliah.
Sebelum Islam datang, setiap
kepala anak yang baru lahir
biasa dinodai dengan darah
binatang sembelihan, kemudian
kebiasaan ini dibatalkan oleh
Islam dan diganti dengan
akikah.
Hikmah-hikmah Akikah
· Merupakan kurban yang
mendekatkan anak kepada Allah
swt sejak masa awal menghirup
udara kehidupan.
· Merupakan tebusan bagi anak
untuk memberikan syafaat pada
hari akhir kepada kedua orang
tuanya.
· Mengokohkan tali
persaudaraan dan kecintaan di
antara warga masyarakat
dengan berkumpul di satu
tempat dalam menyembut
kehadiran anak yang baru lahir.
· Merupakan sarana yang dapat
merealisasikan prinsip-prinsip
keadilan sosial dan
menghapuskan gejala
kemiskinan di dalam
masyarakat, misalnya dengan
adanya daging yang dikirim
kepada fakir miskin.
S

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s